
Aku duduk menanti matahari tenggelam sendirian.
Ku pandangi matahari sore yang terus tersnyum menyapa.
Ketika aku bosan dan ingin beranjak pergi, ia membiaskan cahayanya.
Bias cahayanya di awan membentuk awan mega sore yang menyala, membuatku kembali terpaku.
Burung burung mengepakkan sayapnya saat itu.
Terbang di langit sore nan luas, bebas, sungguh bebas.
Mereka terbang ke arah matahari yang mulai tenggelam.
Ke arah awan mega yang begitu indah saat itu.
Awan malam mulai muncul, mereka mnutup matahariku.
Mereka menghilangkan awan mega yang indah itu.
Mereka menyamarkan kawanan burung yang terbang begitu bebas.
Tapi aku tak ingin beranjak.
Malam datang, sesuatu yang aku tunggu datang.
Tapi aku tetap saja sedih, matahari soreku hilang.
Awan mega yang merah menyala kini menjadi hitam kelam.
Burung burung yang menemaniku terbang dan hilang.
Tapi malam adalah malam.
Tempatku bernaung pada kegelapan.
Menyendiri tanpa arah.
Tenggelam dalam gelap.
Tapi aku sadar.
Ada malam, pasti ada bintang.
Ribuan bintang yang nantinya akan menenmaniku menyendiri.
Belum lagi sapa senyum bulan sabit malam ini.
Mengobati keluh kesah dalam batin yang gelisah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar